ANJURAN
BERSHALAWAT KEPADA NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM
Oleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Di antara hak Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang disyari’atkan Allah
Subhanahu wa Ta'ala atas ummatnya adalah agar mereka mengucapkan shalawat dan
salam untuk beliau. Allah Subhanahu wa Ta'ala dan para Malaikat-Nya telah
bershalawat kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan Allah Subhanahu wa
Ta'ala memerintahkan kepada para hamba-Nya agar mengucapkan shalawat dan taslim
kepada beliau. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ
عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai
orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam
penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzaab: 56]
Diriwayatkan bahwa makna shalawat Allah kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam adalah pujian Allah atas beliau di hadapan para Malaikat-Nya, sedang
shalawat Malaikat berarti mendo’akan beliau, dan shalawat ummatnya berarti
permohonan ampun bagi beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Dalam ayat di atas, Allah telah menyebutkan tentang kedudukan hamba dan
Rasul-Nya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam pada tempat yang tertinggi,
bahwasanya Dia memujinya di hadapan para Malaikat yang terdekat, dan bahwa para
Malaikat pun mendo’akan untuknya, lalu Allah memerintahkan segenap penghuni
alam ini untuk mengucapkan shalawat dan salam atasnya, sehingga bersatulah
pujian untuk beliau di alam yang tertinggi dengan alam terendah (bumi).
Adapun makna: “Ucapkanlah salam untuknya” adalah berilah beliau Shallallahu
'alaihi wa sallam penghormatan dengan penghormatan Islam. Dan jika bershalawat
kepada Nabi Muhammad hendaklah seseorang menghimpunnya dengan salam untuk
beliau. Karena itu hendaknya tidak membatasi dengan salah satunya saja.
Misalnya dengan mengucapkan: “Shallallaahu ‘alaih (semoga shalawat dilimpahkan
untuknya)” atau hanya mengucapkan: “‘alaihis salaam (semoga dilimpahkan
untuknya keselamatan).” Hal itu karena Allah memerintahkan untuk mengucapkan
keduanya.
Mengucapkan shalawat untuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam diperintahkan
oleh syari’at pada waktu-waktu yang dipentingkan, baik yang hukumnya wajib atau
sunnah muakkadah. Dalam kitab Jalaa’ul Afhaam, Ibnul Qayyim rahimahullah
menyebutkan 41 waktu (tempat). Beliau rahimahullah memulai dengan sesuatu yang
paling penting yakni ketika shalat di akhir tasyahhud. Di waktu tersebut para
ulama sepakat tentang disyari’atkannya bershalawat untuk Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam, namun mereka berselisih tentang hukum wajibnya. Di antara
waktu lain yang beliau sebutkan adalah di akhir Qunut, kemudian saat khutbah,
seperti khutbah Jum’at, hari raya dan istisqa’, kemudian setelah menjawab
muadzdzin, ketika berdo’a, ketika masuk dan keluar dari masjid, juga ketika
menyebut nama beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kaum Muslimin
tentang tatacara mengucapkan shalawat. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
menganjurkan untuk memperbanyak membaca shalawat kepadanya pada hari Jum’at.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ
الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ عَشْرًا.
“Perbanyaklah
kalian membaca shalawat kepadaku pada hari dan malam Jum’at, barangsiapa yang
bershalawat kepadaku sekali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh
kali.”[2]
Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa manfaat dari
mengucapkan shalawat untuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dimana beliau
menyebutkan ada 40 manfaat. Di antara manfaat itu adalah:
1. Shalawat merupakan bentuk ketaatan kepada perintah Allah.
2. Mendapatkan 10 kali shalawat dari Allah bagi yang bershalawat sekali untuk
beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.
3. Diharapkan dikabulkannya do’a apabila didahului dengan shalawat tersebut.
4. Shalawat merupakan sebab mendapatkan syafa’at dari Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam, jika ketika mengucapkan shalawat diiringi dengan permohonan kepada
Allah agar memberikan wasilah (kedudukan yang tinggi) kepada beliau Shallallahu
'alaihi wa sallam pada hari Kiamat.
5. Shalawat merupakan sebab diampuninya dosa-dosa.
6. Shalawat merupakan sebab sehingga Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
menjawab orang yang mengucapkan shalawat dan salam kepadanya.[3]
Tetapi tidak dibenarkan mengkhususkan waktu dan cara tertentu dalam bershalawat
dan memuji beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali berdasarkan dalil
shahih dari Al-Qur-an dan As-Sunnah. Para ulama Ahlus Sunnah telah banyak
meriwayatkan lafazh-lafazh shalawat yang shahih, sebagaimana yang telah
diajarkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para Sahabatnya
Radhiyallahu anhum.
Di antaranya adalah:
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
“Ya
Allah, berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana
Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim.
Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia. Ya Allah, berikanlah berkah
kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah
kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi
Maha-mulia.” [4]
Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi yang mulia
ini, juga bagi keluarga beliau, para Sahabat, dan orang-orang yang mengikuti
jejak beliau hingga hari Kiamat.
LARANGAN GHULUW DAN BERLEBIH-LEBIHAN DALAM MEMUJI NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA
SALLAM
Ghuluw artinya melampaui batas. Dikatakan: “ غَلاَ
يَغْلُو غُلُوًّا ,” jika ia melampaui batas dalam ukuran. Allah berfirman:
لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ
“Janganlah
kamu melampaui batas dalam agamamu.” [An-Nisaa': 171]
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ،
فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اَلْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ.
“Jauhkanlah
diri kalian dari ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama, karena sesungguhnya
sikap ghuluw ini telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” [5]
Salah satu sebab yang membuat seseorang menjadi kufur adalah sikap ghuluw dalam
beragama, baik kepada orang shalih atau dianggap wali, maupun ghuluw kepada
kuburan para wali, hingga mereka minta dan berdo’a kepadanya padahal ini adalah
perbuatan syirik akbar.
Sedangkan ithra’ artinya melampaui batas (berlebih-lebihan) dalam memuji serta
berbohong karenanya. Dan yang dimaksud dengan ghuluw dalam hak Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam adalah melampaui batas dalam menyanjungnya, sehingga
mengangkatnya di atas derajatnya sebagai hamba dan Rasul (utusan) Allah,
menisbatkan kepadanya sebagian dari sifat-sifat Ilahiyyah. Hal itu misalnya
dengan memohon dan meminta pertolongan kepada beliau, tawassul dengan beliau,
atau tawassul dengan kedudukan dan kehormatan beliau, bersumpah dengan nama
beliau, sebagai bentuk ‘ubudiyyah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala,
perbuatan ini adalah syirik.
Dan yang dimaksud dengan ithra’ dalam hak Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
adalah berlebih-lebihan dalam memujinya, padahal beliau telah melarang hal
tersebut melalui sabda beliau:
لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ
النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ
وَرَسُوْلُهُ.
“Janganlah
kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagai-mana orang-orang Nasrani telah
berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka
kata-kanlah, ‘‘Abdullaah wa Rasuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya).’”[6]
Dengan kata lain, janganlah kalian memujiku secara bathil dan janganlah kalian
berlebih-lebihan dalam memujiku. Hal itu sebagaimana yang telah dilakukan oleh
orang-orang Nasrani terhadap ‘Isa Alaihissallam, sehingga mereka menganggapnya
memiliki sifat Ilahiyyah. Karenanya, sifatilah aku sebagaimana Rabb-ku memberi
sifat kepadaku, maka katakanlah: “Hamba Allah dan Rasul (utusan)-Nya.” [7]
‘Abdullah bin asy-Syikhkhir Radhiyallahu anhu berkata, “Ketika aku pergi
bersama delegasi Bani ‘Amir untuk menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam, kami berkata kepada beliau, “Engkau adalah sayyid (penguasa) kami!”
Spontan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:
اَلسَّيِّدُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.
“Sayyid
(penguasa) kita adalah Allah Tabaaraka wa Ta’aala!”
Lalu kami berkata, “Dan engkau adalah orang yang paling utama dan paling agung
kebaikannya.” Serta merta beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan:
قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ أَو بَعْضِ
قَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ.
“Katakanlah
sesuai dengan apa yang biasa (wajar) kalian katakan, atau seperti sebagian
ucapan kalian dan janganlah sampai kalian terseret oleh syaithan.” [8]
Anas bin Malik Radhiyallahu anhu berkata, “Sebagian orang berkata kepada beliau,
‘Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik di antara kami dan putera orang
yang terbaik di antara kami! Wahai sayyid kami dan putera sayyid kami!’ Maka
seketika itu juga Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ
وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدٌ، عَبْدُ اللهِ
وَرَسُوْلُهُ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِيْ فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِيْ
أَنْزَلَنِيَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ.
“Wahai
manusia, ucapkanlah dengan yang biasa (wajar) kalian ucapkan! Jangan kalian
terbujuk oleh syaithan, aku (tidak lebih) adalah Muhammad, hamba Allah dan
Rasul-Nya. Aku tidak suka kalian mengangkat (menyanjung)ku di atas (melebihi)
kedudukan yang telah Allah berikan kepadaku.” [9]
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam membenci jika orang-orang memujinya dengan
berbagai ungkapan seperti: “Engkau adalah sayyidku, engkau adalah orang yang
terbaik di antara kami, engkau adalah orang yang paling utama di antara kami,
engkau adalah orang yang paling agung di antara kami.” Padahal sesungguhnya
beliau adalah makhluk yang paling utama dan paling mulia secara mutlak.
Meskipun demikian, beliau melarang mereka agar menjauhkan mereka dari sikap
melampaui batas dan berlebih-lebihan dalam menyanjung hak beliau Shallallahu
'alaihi wa sallam, juga untuk menjaga kemurnian tauhid. Selanjutnya beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam mengarahkan mereka agar menyifati beliau dengan
dua sifat yang merupakan derajat paling tinggi bagi hamba yang di dalamnya
tidak ada ghuluw serta tidak membahayakan ‘aqidah. Dua sifat itu adalah
‘Abdullaah wa Rasuuluh (hamba dan utusan Allah).
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak suka disanjung melebihi dari apa
yang Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan dan Allah ridhai. Tetapi banyak manusia
yang melanggar larangan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut, sehingga
mereka berdo’a kepadanya, meminta pertolongan kepadanya, bersumpah dengan
namanya serta meminta kepadanya sesuatu yang tidak boleh diminta kecuali kepada
Allah. Hal itu sebagaimana yang mereka lakukan ketika peringatan maulid Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam, dalam kasidah atau anasyid, di mana mereka tidak
membedakan antara hak Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan hak Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Al-‘Allamah Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam kasidah nuniyyah-nya
berkata:
ِللهِ حَقٌّ لاَ يَكُوْنُ لِغَيْرِهِ
وَلِعَبْدِهِ حَقٌّ هُمَا حَقَّانِ
لاَ تَجْعَلُوا الْحَقَّيْنِ حَقًّا
وَاحِدًا
مِنْ غَيْرِ تَمْيِيْزٍ وَلاَ فُرْقَانِ
“Allah
memiliki hak yang tidak dimiliki selain-Nya,
bagi hamba pun ada hak, dan ia adalah dua hak yang berbeda.
Jangan kalian jadikan dua hak itu menjadi satu hak,
tanpa memisahkan dan tanpa membedakannya.” [10]
[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin
Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Po Box 7803/JACC 13340A
Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. Bahasan tentang shalawat selengkapnya dapat dilihat pada kitab Jalaa-ul
Afhaam fii Fadhlish Shalaah was Salaam ‘alaa Muhammad Khairil Anaam (hal.
453-556), karya al-‘Allamah Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dengan ta’liq dan takhrij
Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman.
[2]. HR. Al-Baihaqi (III/249) dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, sanad
hadits ini hasan. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1407) oleh
Syaikh al-Albani rahimahullah.
[3]. ‘Aqiidatut Tauhiid (hal 158-159).
[4]. HR. Al-Bukhari (no. 3370/Fat-hul Baari (VI/408)), Muslim (no. 406), Abu
Dawud (no. 976, 977, 978), at-Tirmidzi (no. 483), an-Nasa-i (III/47-48), Ibnu
Majah (no. 904), Ahmad (IV/243-244) dan lain-lain, dari Sahabat Ka’ab bin
‘Ujrah Radhiyallahu anhu.
Untuk mengetahui lafazh-lafazh shalawat lainnya yang diriwayatkan secara shahih
dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dapat dilihat dalam buku Do’a dan Wirid
(hal. 178-180), oleh penulis, cet. VI/ Pustaka Imam asy-Syafi’i, Jakarta, th.
2006 H.
[5]. HR. Ahmad (I/215, 347), an-Nasa-i (V/268), Ibnu Majah (no. 3029), Ibnu
Khu-zaimah (no. 2867) dan lainnya, dari Sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu
anhuma. Sanad hadits ini shahih menurut syarat Muslim. Dishahihkan oleh Imam
an-Nawawi dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
[6]. HR. Al-Bukhari (no. 3445), at-Tirmidzi dalam Mukhtasharusy Syamaa-il
al-Mu-hammadiyyah (no. 284), Ahmad (I/23, 24, 47, 55), ad-Darimi (II/320) dan
yang lainnya, dari Sahabat ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu.
[7]. ‘Aqiidatut Tauhiid (hal 151).
[8]. HR. Abu Dawud (no 4806), Ahmad (IV/24, 25), al-Bukhari dalam al-Adabul
Mufrad (no 211/ Shahiihul Adabil Mufrad no 155), an-Nasai dalam ‘Amalul Yaum
wal Lailah (no. 247, 249). Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata:
“Rawi-rawi-nya shahih. Dishahihkan oleh para ulama (ahli hadits).” (Fat-hul
Baari V/179)
[9]. HR. Ahmad (III/153, 241, 249), an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah
(no. 249, 250) dan al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal
Jamaa’ah (no. 2675). Sanadnya shahih dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu
anhu.
[10]. ‘Aqiidatut Tauhiid (hal. 152) oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah
al-Fauzan.
sumber: almanhaj.or.id